Sejarah Tari Gambyong
Sejarah Tari Gambyong: Seni Rakyat Menuju Istana / Sri Rochana Widyastutieningrum ; Editor, Kundharu Saddhono. -- Cet.1. -- Surakarta : Citra Etnika, 2004. -- xx, 223 P.: Potr. ; 21 Cm.
Buku ini mengungkapkan perkembangan Tari Gambyong (gaya Surakarta), yang merupakan trasformasi dari Tari Taledhek atau Tari Tayub yang hidup di kalangan rakyat. Dalam perkembangannya, Tari Gambyong diperhalus berdasarkan kaidah-kaidah tari keraton dan tidak terlepas dari konteks sosial budaya masyarakat pendukungnya.
Sejak muncul Tari Gambyong Pareanom (1950), Tari Gambyong mengalami perubahan fungsi, dari hiburan atau tontonan kemudian berfungsi untuk penyambutan tamu. Perubahan fungsi ini menyebabkan perubahan bentuk sajian dan peningkatan frekuensi penyajian, jumlah koreografi, dan jumlah penari.
Perkembangan Tari Gambyong tidak terlepas dari nilai estetis yang mengungkapkan keluwesan, kelembutan, dan kelincahan wanita. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antara gerak dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Nilai estetis Tari Gambyong akan muncul apabila penarinya menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan sempurna, sehingga muncul ungkapan tari yang erotis-sensual. Ungkapan itu akan tercapai apabila disajikan oleh penari yang memenuhi kriteria Joged Mataram dan Hastha Sawanda. Dengan demikian diduga kuat, ungkapan erotis-sensual Tari Gambyong ini menjadi daya tarik, sehingga berkembang di masyarakat jawa. Selain itu, juga dipengaruhi oleh sifat-sifatnya yang njawani, situasional, dan fleksibel.
Senin, 22 Desember 2008
Diposting oleh dewi khotijah di 04.39
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
terlalu romantis, apakah ini mewakili persaan sungguhan atau hanya sekedar latihan???
Posting Komentar